• Life Coaching

    Life Coaching membantu Anda mencari impian dan tujuan hidup. Menyentuh 8 aspek sisi kehidupan (spiritual, kesehatan, keluarga, pasangan hidup, keuangan, komunitas, pengembangan diri, dan rekreasi).

  • Wealth And Money Coaching

    Wealth and Money Coaching adalah sebuah kombinasi program psikologi dan strategi perencanaan keuangan untuk Anda. 80% adalah Money Psycology and 20% Financial planning strategy.

  • Business Coaching

    Business Coaching adalah sebuah program coaching / pelatihan bagi Anda yang akan memulai bisnis atau yang sudah memiliki bisnis. Para Coach akan membantu menggali potensi Anda.

  • Agriculture Coaching

    Agriculture Coaching adalah program bagi Anda yang bergerak di bidang Ketahanan Pangan (pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan), baik pribadi, kelompok tani, koperasi, penyuluh pertanian, maupun pemerintah

  • Insurance Coaching

    Agen : Kami melatih Anda dengan menggali potensi Anda, sehingga Anda mampu mendengarkan dan memahami nasabah Leader : Tangangan terbesar leader Anda adalah tingkat keluar masuknya agen dan bagaimana memotivasi mereka. Kami akan melatih Anda dari segi pembuatan sistem managemen team sehingga Anda akan lebih mudah mendapatkan agen yang produktif dan bekerja dengan sistem.

  • Brighter Generation Coaching

    Merupakan bagian dari Life Coaching yang secara spesifik akan membantu mendampingi Anda dalam menyambut masa depan dan mempersiapkan generasi yang cemerlang

  • Food Business Coaching

    Food Business Coaching adalah program coaching untuk pengusaha makanan khususnya industry UMKM dan UKM. Pada program ini akan didampingi bagaimana standarisasi industry yang ideal, bagaimana seharusnya menerapkan sistem HACCP dan membantu Industri kecil untuk dapat bertumbuh menjadi Industri makanan yang besar

  • Student Coaching

    Student coaching merupakan suatu bentuk katalisator bagi coachee yang notabene yaitu mahasiswa dimana seorang coach nantinya akan menggali potensi dan kekuatan terbaik yang ada di dalam dirinya dengan mendengarkan secara aktif dan bertanya yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan

  • Youthpreneur Coaching

    Youthpreneur Coaching, Adalah program coaching yang mempunyai 3 Fokus utama : 1. Youthpreneur Coaching bagi anak muda yang mempunyai "Big Dream" 2. Program coaching ini juga tepat bagi anak muda yang mulai mencari jati diri 3. Bagi para calon pewaris bisnis. Youthpreneur Coaching adalah coaching terbaik bagi anak muda yang mempersiapkan diri menjadi pewaris dan pengembang bisnis perusahaan keluarga di masa depan

Tampilkan postingan dengan label About Coaching. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Coaching. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

Coaching with The 7 Habits in Mind

Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik tentang Coaching belakangan ini, “Bagaimana jika ada seseorang datang pada seorang Coach, seorang koruptor, dan berminat menjadi klien coaching saya dengan tujuan untuk dapat korupsi lebih banyak dan tanpa ketahuan? Akankah diterima?”

Jawabannya tentu saja tidak. Namun pertanyaan serupa itu menghadirkan tanya lain yang lebih esensial: Lalu adakah batasan dalam coaching? Tentang apa coaching sebenarnya? Insan seperti apa kah yang ingin dibentuk melalui coaching?

About Coaching

Beberapa tulisan karya L. Michael Hall tentang psikologi aktualisasi diri, sebuah penelusuran lebih lanjut dari teori-teori Maslow dkk dengan menggunakan NLP dan NS. Hall berpendapat, bahwa coaching adalah sebuah metodologi, yang di belakangnya berdiri sebuah konsep psikologi. Dan konsep psikologi yang paling cocok dengan coaching adalah psikologi manusia sehat. Ia pun menegaskan bahwa konsep aktualisasi diri yang diusung Maslow dkk, dan kini kita lihat dikembangkan lebih lanjut dalam ranah psikologi positif, adalah psikologi aktualisasi diri. Ya, psikologi aktualisasi diri adalah psikologinya coaching. Dengan kata lain, coaching adalah metode untuk memfasilitasi proses mencapai aktualisasi diri.



Merujuk pada The 7 Habits of Highly Effective People yang dikembangkan oleh Stephen R. Covey. Konsep manusia efektif yang diusung Covey, sungguh selaras dengan konsep aktualisasi diri Maslow, dan karenanya selaras pula dengan coaching. Pertanyaan, “Seperti apa kah kondisi manusia yang ingin dicapai melalui coaching?” akan terjawab oleh The 7 Habits.

Bagaimana ceritanya?

OK. Bagi Anda yang belum familiar dengan The 7 Habits, saya akan rangkumkan inti-intinya ya. Detilnya silakan baca sendiri di bukunya yang hingga kini sudah 25 tahun lebih dan masih laris manis.

The 7 Habits of Highly Effective People
The 7 Habits adalah sebuah model yang dapat kita gunakan untuk memetakan kondisi kita kini, dan menumbuhkannya lebih lanjut. Ia bermula dari sebuah riset mendalam yang dilakukan oleh Stephen R. Covey tentang kesuksesan. Dari studi yang ia lakukan terhadap 200 tahun literatur yang pernah terbit tentang kesuksesan, muncul sebuah pola yang meresahkan. Pada 150 tahun pertama (riset dilakukan tahun 1975), yakni 1775-1925, literatur yang terbit tentang kesuksesan selalu bicara karakter. Yakni, ajaran di masa itu, jika kita ingin sukses, maka kembangkanlah hal-hal seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, cinta kasih, dll. 

Namun pada 50 tahun berikutnya, dan berlanjut sampai sekarang, literatur tentang kesuksesan rupanya berubah arah, yakni banyak membicarakan kepribadian. Yakni, jika kita ingin sukses, maka belajarlah untuk lebih percaya diri, perbaiki penampilan, belajarlah persuasi dan komunikasi, dll. Hal-hal yang positif sebenarnya, namun kala tidak dibarengi dengan karakter yang kuat, maka berpotensi melahirkan orang-orang yang menginginkan segalanya serba instan.


Covey kemudian mengajak kita untuk kembali pada pembangunan karakter. Sebab seseorang yang karakternya lemah, katanya, ibarat pohon yang mungkin tampak indah di luar, namun goyah akarnya. Jadilah ia orang yang mudah terombang-ambing dan roboh. Bukankah kita temukan belakangan ini orang-orang yang tersangkut kasus kejahatan adalah mereka yang berpendidikan tinggi? Pengembangan yang fokus pada hal-hal yang tampak luar, jika tak ditopang terlebih dulu dengan yang di dalam, sungguh mudah jatuh hanya sebab diterpa angin.

Dari hasil risetnya tersebut, Covey merumuskan sebuah model yang ia sebut sebagai The 7 Habits of Highly Effective People. Ia sengaja menggunakan kata efektif, sebab kata ini melampaui kesuksesan. Jika kesuksesan berarti mencapai yang kita inginkan, maka efektivitas adalah mencapainya berkali-kali, dengan lebih baik, dalam jangka panjang. Dan hal ini mustahil terjadi kecuali lewat terlebih dahulu membangun karakter yang kokoh. Kata ‘kebiasaan’ juga bukan asal dipilih, sebab membangun karakter sejatinya adalah membangun kebiasaan—sesuatu yang dilakukan berulang-ulang hingga berjalan dengan sendirinya tanpa perlu dipikirkan lagi.

Klop dengan ungkapan bijak dari Samuel Smiles, “Menabur pikiran, menuai tindakan. Menabur tindakan, menuai kebiasaan. Menabur kebiasaan, menuai karakter. Menabur karakter, menuai nasib.”

The 7 Habits mengajak kita untuk menapaki perjalanan mematangkan diri. Manusia memulai kehidupan dari tahapan tergantung, lalu beranjak ke kemandirian, dan berpuncak pada kesalingtergantungan. Untuk dapat naik dari tahapan tergantung ke kemandirian, kita perlu membiasakan 3 hal, yakni: 

  1. Be Proactive. Bertanggung jawab atas diri, tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain dan kondisi. Lawannya adalah reaktif. 
  2. Begin with the End in Mind. Karena orang yang sangat efektif bertanggung jawab pada diri, ia pun bertanggung jawab pada masa depannya. Jadilah ia selalu memulai segala sesuatu dari tujuan akhir yang ingin dicapai. Lawannya adalah orang yang ikut arus. 
  3. Put First Things First. Setelah tujuan akhir ditetapkan, ia pun diwujudkan dengan memastikan setiap aktivitas penting yang mengantar ke sana didahulukan. Lawannya adalah orang yang mendahulukan yang mendesak.

Namun kemandirian, ujar Covey, bukanlah akhir dari kehidupan yang efektif. Orang yang sangat efektif bukanlah ia yang bekerja sendiri, melainkan ia yang sanggup berkolaborasi, dan menjadi bagian dari kehidupan yang besar. Dan untuk menapaki tangga kemandirian hingga mencapai tahapan kesaling tergantungan, kita memerlukan 3 kebiasaan, yaitu:

  1. Think Win-Win. Karena orang-orang mandiri sama-sama merasa mampu mengerjakan banyak hal sendiri, maka kebiasaan pertama yang diperlukan untuk dapat berkolaborasi adalah berpikir menang-menang. Niat untuk memastikan bahwa setiap orang merasa mendapatkan kemenangan. Lawannya adalah berpikir menang-kalah, kalah-menang, atau kalah-kalah. 
  2. Seek First to Understand, then to be Understood. Setelah niat dipasang untuk saling memenangkan, praktik nyatanya adalah dengan bersedia untuk memahami orang lain terlebih dahulu, sebelum kemudian minta dipahami. 
  3. Synergize. Dan buah dari semua itu adalah terjadinya sinergi, yakni kerjasama yang kreatif, yang menghasilkan hal-hal yang lebih baik daripada ketika dikerjakan sendiri-sendiri. Sinergi lebih dari sekedar bekerja bersama-sama. Sinergi adalah proses mengolah kelebihan hingga menjadi sesuatu yang baru. Lawannya adalah kompromi dan konflik.

Sementara itu, fitrah manusia kerap berubah, semangat naik turun. Maka perlu ada kebiasaan yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan seluruh kebiasaan tadi. Ia adalah:

  1. Sharpen the Saw. Orang-orang yang sukses berkepanjangan adalah ia yang tekun mengasah diri dalam 4 dimensi: spiritual, inteleksual, sosial, dan fisikal. Ia meluangkan waktu sejenak untuk menyegarkan diri, sebelum maju kembali.

7 Habits ini lah setidaknya standar minimal manusia sehat itu. Maka seorang coach yang tidak mendapati kliennya menjalankan salah satu kebiasaan, dapat mengenali dan membantunya untuk dapat menjalankan kebiasaan itu kembali.

Contoh, aslinya seseorang itu proaktif, bertanggung jawab atas dirinya, mampu memilih pikiran-perasaan tanpa pengaruh lingkungan. Maka saat ia reaktif, seorang coach dapat memfasilitasi proses untuk mengajak klien menjadi proaktif kembali.

Dalam Kebiasaan 1, dipelajari materi tentang Lingkaran Pengaruh dan Lingkaran Kepedulian. Lingkaran Kepedulian adalah hal-hal yang hanya bisa dipikirkan namun tak dapat dipengaruhi. Orang yang reaktif banyak berfokus di sini. Sementara itu, Lingkaran Pengaruh adalah hal-hal yang dapat dipengaruhi secara langsung. Di lingkaran ini lah orang proaktif memfokuskan pikiran dan tindakannya. Maka melihat kliennya yang reaktif, seorang coach bisa bertanya, “Mencermati kondisi yang Anda ceritakan tadi, apa saja kah hal-hal yang bisa Anda lakukan, dan pengaruhi secara langsung?”

Materi lain dalam Kebiasaan 1 adalah bahasa proaktif dan bahasa reaktif. Bahasa reaktif, adalah kata atau kalimat yang ketika diucapkan akan membuat seseorang berada dalam kondisi pikiran dan perasaan yang tidak produktif. Sementara bahasa reaktif adalah kata atau kalimat yang kala diucapkan akan menjadikannya semangat, positif, dan fokus pada aktivitas yang bermanfaat. Maka coach yang mendapati kliennya menggunakan kalimat seperti, “Mau apa lagi, saya tidak bisa berbuat apa-apa, inilah saya!”, bisa bertanya membantu kliennya untuk menggunakan bahasa proaktif seperti, “Apakah kalimat barusan membuat nasib Anda lebih baik? Apa kalimat yang mungkin membuat Anda lebih bersemangat?”

Contoh lain, ketika seorang coach mendapati kliennya tidak mencapai target karena belum mampu mengelola aktivitas eksekusinya dengan baik (terkait kebiasaan 3). Maka ia bisa memfasilitasi kliennya dengan berkata, “Apa satu hal, yang Anda tahu, jika Anda kerjakan maka akan secara bertahap membantu Anda mencapai target Anda bulan ini?” Dengan bertanya hal ini, sang coach sedang membantu kliennya untuk menentukan aktivitas utamanya yang diperkirakan mengarahkan seseorang mencapai tujuan.

Begitu pula jika seorang coach mendapati kliennya hidup tak seimbang (terkait kebiasaan 7), ia bisa bertanya, “Mana kah dimensi diri Anda yang saat ini sedang Anda abaikan?”

Rabu, 15 April 2015

Mengapa Coaching Itu Penting ?

Mengapa coaching itu penting ?

Hasil dari berbagai studi penelitian mengungkapan bahwa sebenarnya karyawan menyukai kegiatan semacam training, seminar, workshop, outbond dan semisalnya. Apalagi jika misalnya kegiatan semacam itu diadakan di luar kantor, katakanlah seperti di puncak, di hotel, di luar kota atau di luar negeri. Alasannya mungkin ada yang karena ingin menambah pengetahuan, meningkatkan keahlian, mendapatkan sertifikasi keahlian, memperluas jaringan, ingin mendapat kawan baru, ingin berlibur, atau hanya karena ingin menikmati budget pengembangan SDM yang sudah disediakan organisasi.

Dokumentasi PI, Coaching Bootcamp BI NTT - Coach Angky
Selain itu, secara manusiawi pun sebenarnya perusahaan atau pimpinan akan lebih bangga, lebih bahagia dan lebih senang kalau sanggup mengirim anak buahnya ke tempat pelatihan, seminar atau workshop. Mengapa? Normalnya, manusia itu akan lebih bahagia kalau bisa memberi apa yang dibutuhkan orang lain. Apalagi orang lain yang diberi itu adalah orang yang selama ini membantu atau bekerja dengannya.

Tetapi, dalam prakteknya hanya sedikit perusahaan atau organisasi yang sanggup mengirim karyawannya ke tempat pelatihan, seminar atau workshop. Mengapa? Tentu ini sebabnya beragam. Mungkin ada yang disebabkan oleh waktu atau dana dari perusahaan tersebut. Mengirim anak buah ke tempat semacam itu bisa dianggap pemborosan. Tak hanya soal dana dan waktu, efektivitas training, seminar dan workshop, pun menjadi perhitungan sendiri.

Kalau mencermati berbagai hasil penelitian, ternyata tidak secara otomatis kegiatan training, seminar atau workshop itu bisa efektif bagi organisasi atau perusahaan. Secara hasil, penelitian membaginya menjadi tiga kategori, yaitu: a) positive transfer, b) negative transfer, dan c) poor transfer.

Kita pasti sepakat bahwa meningkatkan skill karyawan (dalam pengertian yang luas) itu penting. Soal caranya bagaimana, ini memang butuh penyesuaian berdasarkan keadaan kita masing-masing. Untuk sebagian kita yang kebetulan belum bisa meningkatkan karyawan dengan mengirim mereka ke pelatihan, seminar atau workshop, cara lain yang perlu kita lakukan adalah dengan MEMBUDAYAKAN COACHING!.

Apakah Coaching itu ?

Coaching Adalah ?
Coaching is unlocking  a person’s potential to maximise his or her own performance. its helping them to learn rather than teaching them’ -Sir John Whitmore, ‘Coaching for Performance’ –

Coaching membuka potensi seseorang untuk memaksimalkan performanya. Hal ini membantu mereka untuk belajar daripada mengajarkan mereka.


Coaching berkaitan dengan "bagaimana" : bergerak maju dari tempat Coachee sekarang, dan merancang perubahan untuk mencapai tingkatan yang Coachee inginkan. Hal tersebut berorientasi pada tindakan dan fokus dengan kondisi sekarang dan masa depan bukan pada masa lalu. 


Yang secara lebih spesifik  ditujukan pada karyawan atau perusahaan yaitu untuk memperkuat dan menambah kinerja yang telah berhasil atau memperbaiki kinerja yang bermasalah.

Kalau diuraikan dalam kata-kata, manfaat coaching ini antara lain:

1. Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan 
High Performer
Kompetensi atau skill dasar wajib dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya tetapi kompetensi ini belum bisa dibilang sebagai keunggulan. Jika seorang sekretaris baru bisa menyalin surat ke komputer, jika seorang operator hanya bisa mengangkat telepon, jika seorang sales baru bisa mengetahui produk dan menelpon orang atau mengirim faksimile penjualan, ini semua adalah Memang itu tugas dasarnya.

Sedangkan ada sebuah karakteristik yang dimiliki oleh orang-orang yang berkinerja tinggi (high performer) dan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang berkinerja rendah (low) atau kurang (poor). Kita bisa ambil contoh misalnya seorang sales yang sudah menguasai keahlian-keahlian yang dibutuhkan untuk memelihara pelanggan yang menghasilkan hubungan kausalitas dengan penjualan. Sales seperti ini bisa dikatakan orang yang berkinerja tinggi dengan kompetensi yang dimiliki.

Persoalannya adalah, bagaimana meningkatkan Motivasi kinerja karyawan? Disinilah coaching berperan. Kalau kita hanya menyerahkan (memasrahkan) urusan ini kepada masing-masing individu, bisa-bisa saja. Cuma saja di sini kerap menimbulkan masalah, sebab tidak semua individu sadar, tidak semua individu tahu, dan tidak semua individu menempuh cara yang efektif dan efisien untuk meningkatkan keahliannya. Konon, 98 % dari usaha untuk membangun kompetensi terjadi melalui pekerjaan yang dilakukan.

2. Jalan menemukan 3R
3R
"Hanya SDM yang bagus yang menjadi aset usaha". Bagus ini apa penjelasannya? Penjelasan yang umum bisa kita singkat dengan 3 R: right people, right job and right performance.

Persoalanya adalah bagaimana menemukan 3R ini? Tentu kita sadar bahwa 3R ini bukan sebuah hasil yang final (one-off). Amat sangat jarang kita bisa langsung menemukan orang yang tepat untuk ditempatkan di pekerjaan yang tepat agar bisa mencapai performansi yang tepat (tinggi). Yang sering terjadi, 3R ini ini dicapai melalui proses. Jangan kan karwayan, presiden atau menteri atau pejabat negara yang sudah diseleksi sedemikian rupa pun tidak bisa langsung mencapai 3R ini. Bahkan waktu seratus hari pun dikatakan belum valid untuk menilai kinerja presiden dan menterinya.

Karena itu, coaching bisa menjadi salah satu jalan untuk menemukan 3R. Kalau pun 3R ini belum bisa diwujudkan ke tingkat yang ideal, tapi setidak-tidaknya coaching yang kita lakukan akan memperluas wilayah "interkoneksi" antara 'workforce requirement' dan 'workforce capabilities'. Kalau pekerjaan yang ada menuntut orang yang punya skill berskala 7, sementara skill orang-orang yang ada hanya sampai pada skala 5, ini tentu wilayah interkoneksinya belum nyambung. Supaya nyambung, harus dinaikkan.

3. Jalan menemukan pemimpin dari dalam
Leadership
Dulu, praktek bajak-membajak tenaga ahli pernah menjadi isu besar di beberapa media massa. Sekarang pun praktek semacam ini masih kerap dilakukan meski sudah jarang dijadikan berita. Adakah sesuatu yang salah dengan praktek bajak-membajak ini? Secara konsep memang tidak. Cuma dalam prakteknya, tidak semua orang yang kita bajak itu menjadi "berkah". Ada yang malah menjadi beban. Artinya, meski konsep ini bisa jadi benar di teorinya tetapi untuk mempraktekkannya butuh konteks yang tepat dan alasan yang spesifik.

Kalau melihat hasil studi yang dilakukan Jim Collin, rupanya praktek bajak-membajak ini kurang digemari oleh para pemimpin usaha yang sudah sanggup menggerakkan usahanya dari good ke great. Mereka rupanya punya tradisi untuk mengembangkan seorang pemimpin (senior atau tenaga ahli) dari dalam. Dipikir-pikir, ini memang rasional. Orang dalam yang kita kembangkan, akan memiliki pengetahuan tentang keadaan secara lebih mendalam ketimbang tenaga baru yang kita bajak.

Nah, kalau melihat ke sini, coaching bisa kita jadikan instrumen atau jalan untuk melahirkan seorang pemimpin dari dalam. Dilihat dari efektivitas dan efisiensinya, cara ini mungkin lebih menjamin ketimbang membajak tenaga baru yang masih "abu-abu". Kalau pun orang yang kita coaching itu tidak menjadi pemimpin di tempat kita, tetapi setidak-tidaknya kerjanya sudah lebih bagus.

Dari penjelasan di atas sudah dipapar Mengapa Coaching Itu (sangat) Penting. Untuk siapapun Anda seorang individu maupun Owner business, Butuh seorang Coach untuk membantu Anda meraih impian bisnis Anda? Hubungi Kami untuk inspirasi yang Anda dapatkan, kami akan sangat senang membantu dan mengarahkan Anda untuk mendapat apa yang Anda inginkan!




Klik Gambar Untuk Menghubungi Kami




Referensi : Teguh R (Staff IT & Desain PT. Pelatih Indonesia Berlimpah)



 

Kamis, 02 April 2015

Kapan dan Kenapa Anda Membutuhkan Coaching?


Setiap pemenang pasti memiliki seorang coach dibelakangnya, tidak akan mungkin seseorang yang tanpa latihan dan tanpa persiapan tiba-tiba memenangkan sebuah kompetisi yang besar, Right?, seperti peribahasa latin kuno pada film "The Mechanic" yang berbunyi : Amat Victoria CuramVictory Loves Preparation - Kemenangan Membutuhkan Persiapan. Ide dari peribahasa tersebut sangat sederhana, yaitu ketika kita menginginkan kemenangan atau kesuksesan, maka kita perlu mempersiapkan segalanya. "Jadi kapan Anda membutuhkan seorang coach ?", karena coaching salah satu persiapan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Terdapat banyak sekali manfaat coaching, jangka panjang maupun pendek. Jangka panjang misalnya adalah pengembangan bisnis, pencapaian karir yang lebih tinggi, perpindahan karir, dll. Jangka pendek contohnya adalah pencapaian target yang lebih tinggi, ekspansi pasar, dll.
Sebuah Pistol pada film "The Mechanic
Sebagai contoh lain, sama halnya seperti atlet, penyanyi, ataupun seorang superstar sekalipun, selalu dikelilingi oleh para pelatih dan penasehat. Tiger Woods, seorang pemain golf terkaya di dunia, memiliki seorang Pelatih atau Coach yang membawanya menjadi pemain golf berkulit hitam yang sangat fenomenal. Sebutkan penyanyi kelas dunia favorit Anda, dapat dipastikan dia punya seorang pelatih coach. Barrack Obama Presiden Amerika terpilih pun memiliki 7 orang Coach yang mendampinginya dalam proses pemenangan dirinya di Pemilu lalu. Bahkan Michael Jordan pemain basket legendaris dari Chicago Bulls tidak ingin bermain basket jika tidak dilatih atau di-coach oleh Phil Jackson, yang juga seorang coach legendaris. Dan sekarang mereka memiliki kehidupan yang luar biasa.
Anda mungkin seorang pengusaha, penulis, karyawan, eksekutif, anggota dewan, pendidik, profesional, atau seorang ibu rumah tangga biasa, siapapun Anda. selama Anda masih menarik nafas dan menghembuskan nafas ketika membaca tulisan ini, dan Anda mendambakan sebuah kehidupan luar biasa, artinya Anda membutuhkan seorang pelatih atau COACH, SEKARANG! right ?...
Act Now!!
Bagi para pebisnis, pengusaha, atau owner bisnis mungkin belum begitu familiar dengan pelatihan bisnis atau yang sering disebut Business Coaching tentunya banyak timbul pertanyaan dibenak Anda sebagai pemilik bisnis mengenai manfaat apa saja yang akan didapatkan selama coaching, Beriukut 6 fakta dalam Business Coaching yang akan memberikan Anda sebuah pemahaman baru mengapa memiliki Business Coach sangatlah penting dalam membangun bisnis Anda.


Business Coach
Seorang Pelatih Bisnis adalah seseorang yang Anda pekerjakan untuk mengembangkan seluruh area dalam bisnis Anda, dari segi penjualan dan pemasaran sampai ke pembentukan visi misi perusahaan. Seorang Coach akan membantu Anda agar Anda datang dengan sebuah rencana untuk bisnis Anda dan membantu Anda dalam mewujudkannya.
Mengapa seorang business coach sangat penting? Menurut survei yang diadakan oleh International Coach Federation menunjukkan bahwa:
  • 62.4% orang yang telah dilatih oleh seorang coach telah memiliki peningkatan dari goal yang ditetapkan

  • 60.5% memiliki hidup yang lebih seimbang

  • 57.1% merasakan penurunan dari tingkat stress yang dialami

  • 52.4% memiliki rasa percaya diri lebih baik

  • 43.3% merasa bahwa dengan memiliki coach mereka telah menungkatkan kualitas hidup, dan 

  • 25.7% telah memiliki peningkatan dalam pendapatan.

Keberhasilan dalam meningkatkan goal yang telah ditentukan menandakan bahwa Anda dapat menetapkan goal yang beralasan dan goal yang dapat dicapai. Seorang coach akan membantu Anda menetapkan goal yang spesifik, tidak hanya goal-goal yang seperti “saya ingin penjualan saya meningkat” Coach akan menggali keinginan Anda lebih dalam, berapa banyak penjualan yang Anda butuhkan? Mengapa dan bagaimana Anda dapat mewujudkannya? Itulah “mengapa” sama pentingnya dengan “bagaimana”. Alasan mengapa Anda menetapkan goal akan membantu Anda untuk tetap pada track yang benar untuk mencapainya.
Meningkatkan penghasilan adalah sesuatu yang setiap orang inginkan ,apakah Anda melakukan apa yang Anda butuhkan untuk meningkatkan penghasilan pada bisnis Anda? Apakah Anda bahkan tau apa yang Anda butuhkan untuk meningkatkan penjualan Anda? Mungkin caranya bukan hanya sekedar bekerja lebih keras, terkadang ini semua adalah tentang bekerja dengan lebih pintar. Seorang coach akan memiliki sebuah pemikiran untuk mampu mengarahkan Anda sebagai pemilik bisnis, kemana anda sedang memutar roda dan bagaimana anda dapat mendapatkan arah yang lebih baik.

Life Coach


Sedang kan untuk Life Coaching, Keseimbangan Hidup , stress yang berkurang dan kualitas kehidupan yang meningkat akan Anda raih. Coaching bukan hanya bagian dari pengembangan bisnis, dari itu semua coaching yang sebenarnya adalah tentang pengembangan hidup (bertumbuh). Malah berkecenderungan 80% Life 20% Bisnis. Bagaimana hidup Anda menjadi lebih baik dengan semua waktu yang Anda habiskan untuk bisnis Anda? Apakah itu membuat Anda lebih stress dan mengurangi kualitas hidup Anda? Memiliki seorang business coach tidaklah harus menunggu sampai bisnis Anda berkembang dengan baik tapi berbicara bagaimana Anda akan menjadi lebih baik dalam bisnis Anda. Buatlah diri Anda sebagai aset bisnis dan prioritas bagi perkembangan bisnis Anda!
Butuh seorang Coach untuk membantu Anda meraih impian bisnis Anda? Hubungi Kami untuk inspirasi yang Anda dapatkan, kami akan sangat senang membantu dan mengarahkan Anda untuk mendapat yang Anda inginkan!!


 
Contact Us



Referensi : Teguh R


'Knowing yourself is the beginning of all wisdom.' — Aristotle